Rabu, 12 April 2017

*SNI IN LOVE

PROLOG.

"Oke, mulai sekarang anggep aja diantara kita ngga pernah ada tegur sapa. Ketika elo liat gue, anggep aja lo ngga liat dan gue pun akan sebaliknya. Gue minta maaf karena gue udah ngerusak kenyamanan hidup lo Ban. Gue janji, akan lupain elo dan perasaan gue ke elo. Tapi gue ngga bisa janji waktunya kapan" tegas Cacha dengan suara lirih sedih tertahan.
"tapi gue ngga pengen kita kaya gini. Gue pengen kita kaya dulu, temenan dan lo tetep jadi temen deket gue" protes Bani tidak terima.

Jendela rumah menganga sejak pukul enam pagi tadi. Ibu sudah sibuk sejak suara adzan subuh berkumandang, membangunkan anak-anaknya dan menyiapkan sarapan untuk bapak dan kedua anak perempuannya, Belia dan Cacha.
Hari ini adalah hari pertama Cacha, anak ibu yang kedua masuk kuliah.
Benar, Cacha dan ibunya sama-sama sangat semangat untuk hal ini. Berbeda dengan Belia, Cacha adalah anak yang tidak terlalu mengurusi badannya. Cacha termasuk orang cuek dengan penampilannya, itu sebabnya Cacha dengan Belia di anggap seperti bumi dengan langit. Sedang Belia, kakak Cacha merupakan anak pertama Bu Sedayu yang paling fashionable dan uptodate kalo soal pakaian dan make up. Ya itulah, justeru perbedaan antara Cacha dengan Belia yang membuat keharmonisan keluarga Bu Sedayu semakin terasa. Jelas, memang perbedaan itu menyatukan.

"Bellllllll... buru bel gue telat ini, perdana ngampus bel gue ngga mau nanti dicap ayam lagi sama kayak jaman gue SMA. Gue mau rajin nih, elah....dandan mulu cantikan kaga cantikan juga gue kan, huhu hahaha" gerutu Cacha sambil membunyikan klakson mobilnya.
Meskipun kesal, Cacha memang tidak bisa kalo berangkat kemana-mana tanpa berantem atau bercerita dahulu dengan kakanya.